nuffnang ads

Showing posts with label homeschool. Show all posts
Showing posts with label homeschool. Show all posts

Wednesday, 16 December 2020

Early Year Education at Home

Pendek kata, homeschooling lah ya :-) 

Early years childhood education (EYCE)

Jadi kemarin ada diskusi dengan beberapa teman yang memiliki anak seumuran Marcella.

Mereka memuji karena Marcella sangat advance dibanding anak-anak seumuran di Indonesia.

Pendidikan luar negeri memang maju ya, anak seumuran cella bisa sangat advance.

Sambil mengucapkan terimakasih, saya masih tidak faham advance yang bagaimana menurut mereka. Secara Marcella juga belum kuajarin membaca, nulis juga atas kehendak dan sesuka dia, berhitung apalagi.. Nomer aja nggak hafal angka berapa.

"Entah ya, tapi.. Beda aja dengan anak-anak disini.  Pendidikan luar negeri memang beda ya sama pendidikan disini"
Ini komentar temen yang lain.


Disini aku sambil share dengan teman-teman yang lain, untuk meluruskan image sekolah mahal dan luar negeri. Sebenarnya bukan pendidikan luar negeri yang membuat anakku "hebat" Justru anakku dilahirkan dan digedein oleh aku (si orang kampung) haha...

Sebenarnya lebih ke mindset dan kesiapan seseorang untuk menjadi parent. Siap itu ya mental, ya ilmu, ya knowledge, ya support, ya iman, ya taqwa, ya semuanya aaaa *hihi...

Yang kedua, keinginan orang tua untuk mencari dan menambah ilmu tentang parenting (jadi sebenarnya bukan metode homeschool-nya, tapi metode parenting-nya lah yang membuat seorang anak kelihatan berbeda).

Yang ketiga, ini yang paling penting menurut saya. Menjadi model yang baik kepada anak. Anak kecil lebih kepada mencontoh langsung perilaku dan cara berfikir orang tuanya ketimbang mendengarkan nasehat.



Semoga share-knowledge ini bisa membesarkan hati teman-teman bahwa memiliki anak yang calm, confindent, resilient dan ber-attitude baik, tidak melulu bergantung kepada sekolah mahal yang tidak semua mampu untuk menjangkaunya. Tetapi emmotionally intelligence pada anak justru bisa kita ciptakan tanpa biaya. Yaitu dari rumah dan bersumber dari kita sebagai orang tua :-) 

Wednesday, 9 December 2020

Rambut Jagung Untuk Sensory Play

We are big fan of easy-but-served-multisensory play.
Corn is one of our  material. The husks, the corn on the cob, the cob, the silk.. All having different textures and shape.


My little one enjoy peel the corn husk and play with them for a while before we grill. When we enjoy the roasted corn, the cobs would be another play material.


Corn silk usually take the longest in the play tray, the soft silky Barbie hair like really nice to touch and hold.


Corn silk served roles in pretend play, as noodle or pasta. 


Paired with chopsticks,tong,fork and spoon it brush up her fine motor skills.
Another day it will served as hair extensions, nests, ocean and fairy playground on her pretend play. 


Bird's nest with corn-bird just hatched in it. Those white stuff meant to be the egg shells.


The corn man :) 

Tuesday, 8 December 2020

Earth Art on The Sands


Been my almost daily schedule to bring my 4yo to the park each morning. Its good for me to skip away from my family drama, and its good for her to not-listen to drama and to play in a quiet pace (bye super-loud-TV) 

But when just play is not enough and I didn't prepared anything in the bag (books, paint, crayon, paper) I just Trier my best to making up something. 


My 4yo met the girl who is the gardener's daughter and we just get along together. She is nice kid to play with as well.

I should've bring her to the park more often and on the next visit I will make sure to bring along bike, paint, paper, crayon, glue and books. Just like when we do back in Malaysia :-) 

Sunday, 27 September 2020

Rainbow Hunt By The Park

Mencari jejak pelangi di Taman Kota

Seperti ini lah kegiatan kami dengan anak-anak di kala pandemi. Pergi ke taman dan mencari kegiatan.


Ide untuk rainbow hunt sebenarnya pernah kami lakukan di Kuala Lumpur dengan anak-anak playdate. Dengan bahan yang sangat mudah dan murah. Selembar kertas, krayon beraneka warna dan selotape bolak-balik (double sided tape).


Structured activities seperti ini biasanya saya berikan setelah anak-anak puas bermain dengan bebas (free play) . Ketika mereka telah kehabisan ide untuk "ngapain ya setelah ini" Baru saya akan membagikan kertas untuk mengisi masa lapang sambil istirahat. 



Anak-anak terlihat sangat antusias mencari dan menempel bahan-bahan disekitar berdasarkan warna. 


Berjalan berkeliling Taman untuk mencari bunga, daun, bahkan ranting.


Marcella sangat bangga dengan hasi karya-nya. She's been filled up all the colours. 


After finish, we continue having free play around the park. Climbing, running and cycling.


Saturday, 26 September 2020

Ladybugs Hunting

Mencari Kepik di Sawah

It was sunny Saturday morning, we are waking up quite early and decide to go to  dried water dam near the field. It was about 10 minutes of slow bike from my parent's house.


Hari Sabtu pagi yang cerah dan tidak begitu dingin, kami bangun sangat pagi dan memutuskan untuk pergi ke bendungan yang telah kering di pinggir sawah. Jaraknya cukup dekat, sekitar 10 menit naik sepeda motor.

Kami tidak  membawa peralatan khusus hanya sun lotion (krim tabir surya), bekal, topi, dan beberapa plastik putih untuk tempat kepik.


Walaupun tanah sawah telah mengering karena kemarau panjang, tetapi tanah di dasar bendungan masih cukup lembab dan sejuk, dengan rumput-rumput halus yang tumbuh membuat bendungan itu sangat lembut ketika kami pijak.


Begitu kami sampai, serta merta mereka berpencar. Mencari pojok favorit untuk mencari serangga.


Dengan bekal ilmu yang (hampir cukup usang) dan dukungan "laman web" saya pun menjelaskan beberapa jenis kepik dan manfaat dan kerugian mereka nya untuk tumbuhan di sekitar.

Anak-anak (tentu saja) tidak mendengarkan saya ha ha ha.. Mereka sibuk menghitung dan membandingkan milik siapa yang lebih bagus atau lebih banyak. 


Setelah lama berteriak dan berlarian, kami membentangkan tikar dan membuka bekal. 



Anak-anak dan para ibu yang kelaparan sebelum kami pulang. 




Saturday, 19 September 2020

MUD KITCHEN


Untuk menciptakan mud-kitchen tidak harus memerlukan biaya, peralatan atau tempat khusus.



Mud-kitchen bisa  diciptakan dimana saja dengan bahan-bahan di sekitar kita.

Yang diperlukan untuk membangun Mud-kitchen adalah:
1. Sumber air
2. Lokasi
3. Peralatan



Karena pandemi, kami sekarang tinggal bersama orang tua di Indonesia dimana kakek dan nenek tidak memiliki "space" untuk anak-anak, saya memilih untuk membuatnya secara mobile. Meletakkan semua dalam satu keranjang, dan ketika kami bertemu tempat bermain. Disitu kami akan menata peralatan. Dan setelah selesai, semua peralatan dicuci, dan ditumpuk kembali di dalam keranjang.


Untuk peralatan, saya tidak membeli atau menyediakan peralatan pasaran khusus, melainkan memakai bahan yang ada. Dari kaleng bekas biskuit, alat dapur lama, kotak makanan, bahkan batok kelapa.

Sumber air bisa menggunakan kran, pipa, ember, maupun baskom. Saya lebih memilih memberikan sebuah ember dengan mangkuk kecil untuk mengurangi jumlah air yang terbuang.


Kegiatan memasak dan berkreasi anak-anak bisa dilakukan dimana saja dengan bahan apa saja, tanpa mengurangi ide dan imajinasi.

Tuesday, 15 September 2020

BERKEBUN BERSAMA ANAK

I don't even have green hands, I kill almost every plant I took care. But somehow I stop believes that we need to have green or red hand to grow something.

In fact, saya mencoba mengubah mindset bahwa dengan berlatih dan kesabaran, semua orang bisa menumbuhkan sesuatu.

 

Berkebun adalah kegiatan yang menyehatkan dan fun untuk anak-anak. Mereka membangun skills baru, belajar tentang science dan alam  seperti botani (ilmu tumbuhan) , entomologi (ilmu Sera ngga) , dan ekologi (keseimbangan alam) tanpa proses belajar yang khusus .


Sebenarnya apa sih keuntungan kegiatan berkebun untuk perkembangan anak, sampai-sampai banyak pakar anak dan usia dini sangat menyarankan kegiatan tersebut.


Selain menguatkan otot dari kegiatan fisik yang dilakukan oleh anak dan asupan vitamin D dari matahari pagi, yang paling saya nikmati ketika berkebun dengan anak adalah obrolan kami. Disela-sela menggali tanah, mengaduk pupuk, dan memasukkan kedalam polybag. Kami bersosialisasi, bercanda, dan tidak jarang saya menyelipkan sedikit ilmu tentang manfaat tumbuhan dan hewan yang kami temukan.


Anak-anak pun berlatih matematika dengan menghitung jumlah benih, daun, dan mengukur panjang batang stek tanaman. 


Dengan berkebun, anak-anak menjadi lebih peka dan sadar dengan alam sekitar. Mereka mengetahui hampir semua jenis nama sayuran yang kami tanam, rasa dan manfaatnya *yang tidak jarang anak-anak lebih tua dari mereka pun tidak tahu yang mana daun bayam dan mana daun ubi :')


Dengan berkebun, anak-anak akan memiliki tugas untuk merawat seperti menyiram, mencabut rumput, membuang ulat, dan kadang-kadang meyemprot dengan larutan bawang untuk mengusir kutu daun. Disini anak akan belajar rasa tanggung jawab dengan apa yang mereka miliki.


Tips berkebun dengan anak
Anak memiliki tingkat kesabaran yang cukup rendah, sehingga penting untuk memilih tanaman yang cepat tumbuh dan mudah dipelihara. Seperti daun bawang, bawang merah, bayam, sawi, kangkung.


Untuk tempat tanam, sebaiknya memakai bahan murah saja seperti pot plastik atau berbagai wadah bekas. Sedangkan benih bisa diambil dari biji yang dibeli dengan harga murah, atau sisa-sisa bahan di dapur.


Relax dan tidak berekspektasi,  biasanya saya akan memberi sedikit benih untuk setiap anak. Membiarkan mereka menyebar, menyiram, dan merawat. Berapapun sisa yang tumbuh, itu adalah rezeki kami.


Saya lebih memilih tidak berharap untuk memanen hasil tanaman. Tetapi lebih fokus kepada proses, menikmati bagaimana sebutir biji bisa berakar, menghasilkan tunas dan daun.



Ada banyak hal menarik lain yang kami temukan dalam berkebun seperti kunjungan serangga-serangga seperti belalang, kepik (ladybug), lebah dan kupu-kupu yang tentu saja menambah keceriaan dan topik untuk belajar. Beberapa kali kami pun didatangi oleh keluarga katak yang kemudian memberi ide untuk mencari dongeng tentang katak, menggambar katak dan mencari siklus hidupnya.


Monday, 14 September 2020

MUD KITCHEN: Manfaat Untuk Anak

KEUNTUNGAN MUD KITCHEN

Mud Kitchen yang dalam bahasa kita berarti dapur-lumpur. Merupakan sebuah istilah barat untuk tempat bermain masak-masakan dengan campuran air, pasir, tanah, lumpur, dan segala benda yang ditemukan di luar rumah.
 


Kenapa harus mud tidak bisakah menggunakan bahan yang bersih. Oh, tentu bisa. Tapi tujuan menciptakan area untuk mud-kitchen ini sebagai pemberitahuan kepada anak bahwa "Bahan permainan kalian tidak dibatasi"
(Kecuali berbahaya).


Kalau ditanya apa sih untungnya bermain masak-masakan pakai lumpur dan pasir segala. Kenapa permainan ini sangat penting di dalam dunia kanak-kanak bahkan hampir selalu ada di sekolah-dekolah dan day-care di negara maju. 

1. Mud play is considering sensory activity. Dari menyentuh, mengeruk, mengaduk, memeras pasir atau lumpur. Anak merasakan sensasi yang menstimulasi syaraf otak.


2. Imajinasi dan kreativitas. Dalam proses bermain, anak akan menciptakan sebuah skenario *imajinasi (secara mandiri maupun berkelompok) yang kemudian akan dilanjutkan dengan proses pembuatan sesuatu *creativity.

3. Berinteraksi dengan alam sekitar. Karena bermain kotor selalu nya dilakukan di luar rumah, anak akan berinteraksi dengan alam sekitar. Menggunakan tumbuhan , batu, kayu dan bahan alam disekitarnya sebagai permainan.


4. Komunikasi dan kemampuan berbahasa. Di dalam permainan masak-masak selalu terjadi sebuah percakapan tentang apa yang sedang mereka lakukan dan ciptakan. Either dengan teman ataupun dengan diri sendiri.


5. Good mental health yang di dapat dari kebebasan bermain ,  kebebasan untuk menjadi seorang anak dan mengeksplorasi persekitaran.

*next post akan membahas betapa simpel nya membuat mud kitchen tanpa harus mengeluarkan modal atau mencari tempat khusus.


Sunday, 13 September 2020

Treasures Hunt


We went to the park again today for play and learn.


I secretly prepared activities just so they don't just too dependent on what I'm telling them to do so otherwise we just can't think.


After tired of swinging, climbing and cycling. I pulled out the paper I've made last night.


I just made simple map of the park and asked the kids to circle the number of the object they've been found.

 

Kids divide into two groups and they just too busy trying to solve the "mystery code" around the paper.


Overall it was successful activities. The kids get so excited and couldn't stop talked about it.