nuffnang ads

Friday, 31 July 2015

Selamat hari Raya







Kami sekeluarga ingin mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri,
Mohon Maaf Lahir dan Batin.



Walaupun lambat, karena puan pemilik blog tengah tak sehat berhari-hari.
I couldn't see laptop screen too long :)

Selamat bercuti, selamat menghadiri open house,
eat lot of food and cookies at home.
Meeting friends and family :)


Monday, 20 July 2015

Cerita Tentang Telur Asin


Whenever I had salted egg on my table,
I remember my about my mom


Telur asin dan keluarga kami sangat erat hubungannya.
Dua puluh tahun yang lalu, ketika itu saya masih kuliah di IPB Bogor.
Kami sekeluarga memang "miskin" semiskin-miskinnya… Karena Ayah adalah satu-satunya penopang keuangan keluarga, dan kami berempat masih Kuliah. Dan kami tidak memiliki sebidang sawah atau penghasilan sampingan lain.

Jadi, gaji ayah yang memang secuprit itu harus dibagi ber-tujuh. Belum lagi ponakan-ponakan ibu yang ikut di rumah kami menambah ramainya suasana krisis moneter.

Waktu itu aku bertanya pada ibu kalau ingin punya bebek untuk di-jar di belakang rumah sebagai recycle centre untuk membersihkan sisa nasi dan sayur. Secara ayam zaman sekarang sangat pemilih (milih konsentrat dan dedak, dibanding nasi)

Dan bebek cukup rajin memberi telur yang besar, dibanding ayam kampung yang males bertelur dan ukuran telurnya kecil.

Kami membeli bebek dari tetangga (yang dua diantaranya, diberi bebek afkir/tua/reject) JAHAT MEMANG….!!!!!

Dari lima ekor bebek di belakang rumah, yang bertelur 3-4 butir setiap hari. Ibu sudah berhenti membeli telur ayam di tukang sayur. Kadang-kadang telur itu malah tersisa banyak, dan tidak termakan.
Tetangga yang memiliki anak kecil suka datang ke ibu untuk membeli telur itik setelah tahu kalau itik kami hanya makan sisa nasi, sayur dan dedak. Bukan konsentrat buatan pabrik (anak kecil tidak dianjurkan makan telur dari ayam petelur, karena gizinya kurang)



Melihat peluang bisnis, ibu menambah modal menjadi 15 ekor itik, dan membeli itik siap telur dari penjual lain yang jujur. Telur bukan hanya di jual segar, tetapi juga di asinkan untuk di jual di supermarket.

Saya tidak banyak merasakan suka-duka membuat, mengasin, menjual telur itik karena saya jauh di Bogor untuk Kuliah dan Pacaran.
Kedua adik saya pun hanya menjadi tukang gosok dan stempel telur yang sudah direbus.

Sedangkan: membersihkan kandang, memberi makan, memungut telur, mencuci telur, menumbuk abu, mencampur garam, memeram telur, membuka peraman telur, mencuci, menggosok, merebus dan mengantar telur ke customer semua dilakukan oleh ibu sendiri.
(Kalau ingat, kadang saya menyesal. Most of my long semester break I spend to vacation all over Indonesia, while my mother slaves herself daily to make extra money)





Begitu dalamnya rasa bersalah saya kepada Ibu, Saya memang tidak ingin (dan nggak doyan) makan telur asin beli di toko. Dengan alasan, why do I have to make them rich by buying their salted egg while  I didn't event help my mother while she struggle make it.

=> Sebenarnya bukan telur asin saja yang saya boikot dari mulut. Ketika keluar dari rumah, saya sama sekali menolak untuk membeli buah mangga. Dengan alasan, kami di rumah ada 20 pohon mangga, dan kami memberikan gratis buahnya kepada yang menginginkan. Kenapa aku harus membayar untuk sebutir mangga.

Doesn't matter how much I crave for Mango and salted egg, I would refuse to buy or pay.
BEGO YA…? lol. I don't know

Perilaku "Nasionalistik" seperti ini bertahan sampai hampir 20 tahun.  Dan baru kemarin saya membeli telur asin dan mangga muda karena sangat craving dan rindu dengan telur asin buatan ibu saya. Rasa nasionalistik pun sedikit berkurang karena Ibu sudah lama beralih ke sawah padi untuk penghasilan sampingan. Pohon mangga kami juga sudah banyak yang ditebang untuk membesarkan rumah.







Friday, 26 June 2015

Buka Puasa : Kemaruk Makan



Buka Puasa hari ke-8
Break fast day-8

Alhamdulillah, puasa dah dapat 8 hari (eh… lamanyaaaaa nak Raya… ;)
After so many days just eating porridge,
finally my tummy, my body and my mood willing to cooperate and let me enjoy a bit of bazaar Ramadhan.

Mr. waiting for me in Thursday Bazaar afterwork, he sat and chill (I walk around carry his wallet)

The quote that "You shouldn't shopping when you hungry" is totally right, I bought way too many food that I couldn't finish myself. Ditambah lagi dengan shopping yang sememangnya bukan suit sender => lagi kemaruk…..




Es Cendol
Shredded Ice cube, sugar syrup, cendol and cream corn
(masih enak cendol yang ada di deket terminal Bogor)




Jus Jambu aka Guava Juice




Karipap Pusing / Pastel / Shell Curry Puff
Yang besarnya Nauzubillah

I bought for RM 2 each. 
Please don't compare with karipap gergasi from random night market, sometimes you got cheated with just thin curry puff shell without filling. Mine is totally full with potato curry and halved hard boiled eggs.

I shouldn't eat other food after finish up my curry puff to give extra space for liquid.

BUT…..



Nando delivery just arrived

Chicken tortilla wrap, quarter chicken, corn, chips and coleslaw.



LEPAS MAKAN SEMUA BARU INGAT TAUBAT…

Pengalaman Pribadi: 
Kalau makan terlampau kenyang, nikmat daripada makanan itu berkurang.
Rasanya nggak senikmat kalau kita makan just-enough, as what we need 
Lidahnya jadi kebas… nggak bisa ngerasain syukur


Just my own experience,
having too full tummy coz of too much eating reduce the pleasure  of the food.
The taste of the food not as awesome as when you just-have-enough for your body
My tongue seems numb, my chest feel pain, and I got no space for water.

I sleep with dehydration feeling and I woke up headache :(

WONT BE OVER-EAT AGAIN
MENYESAL…. :'(